Biografi Goenawan Mohamad

Goenawan
Soesatyo Mohamad (lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli
1941; umur 69 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia
juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.
Goenawan Mohamad adalah
seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain
sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan
musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo
Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad
adalah pemikiran monodimensional.
Masa MudaPendiri
dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, ini pada masa mudanya
lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto
Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai
media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian
menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di
kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian
kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B
Jassin. Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, belajar psikologi di
Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow
di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti
Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Dunia JurnalistikPada
1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan
Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time.
Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di
Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto
yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo
dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga
dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohammad kemudian
mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis
independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institusi
Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan
terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali terbit
setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan
dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan
mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan
menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah
terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei
2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan
Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan
Mohammad pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan
pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.
Selepas jadi pemimpin
redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan
praktis berhenti sebagai wartawan. Bersama musisi Tony Prabowo dan
Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (dimulai 1996, tapi
dalam revisi sampai 2003) dan dengan Tony, The King’s Witch (1997-2000).
Yang pertama dipentaskan di Seattle (2000), yang kedua di New York.. Di
tahun 2006, Pastoral, sebuah konser Tony Prabowo dengan puisi Goenawan,
dimainkan di Tokyo, 2006. Di tahun ini juga ia mengerjakan teks untuk
drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut
beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.
Dia juga ikut
dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan
Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan Dalang
Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan Dalang Slamet Gundono, Alap-alapan
Surtikanti (2002), dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio
Tirtosudarmo.
Karya Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun
menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah
diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan
Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang,
dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair
Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980).
Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer
adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara
mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari
Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik
terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil
posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun
1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap
pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
Catatan Pinggir, esei
pendeknya tiap minggu untuk Majalah Tempo, (kini terbit jilid ke-6 dan
ke-7) di antaranya terbit dalam terjemahan Inggris oleh Jennifer
Lindsay, dalam Sidelines (19…..) dan Conversations with Difference
(19….). . Kritiknya diwarnai keyakinan Goenawan bahwa tak pernah ada
yang final dalam manusia. Kritik yang, meminjam satu bait dalam
sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”.
Kumpulan
esainya berturut turut: Potret Seorang Peyair Muda Sebagai Malin Kundang
(1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993),
Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi
(2002).
Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971),
Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998),
dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak
pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan
judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
Setelah
pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus
Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari
Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang
memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain
di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku
perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak
elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja
bahu membahu dalam perlawanan itu.
Dari ikatan inilah lahir
Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam
Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak
tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”.
Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap
pemberangusan ekspresi.
Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.
Tahun
2006, Goenawan dapat anugerah sastra Dan David Prize, bersama antara
lain eseis & pejuang kemerdekaan Polandia, .Adam Michnik, dan
musikus Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005 ia bersama wartawan Joesoef Ishak
dapat Wertheim Award.
Karya terbaru Goenawan Mohamad adalah buku
berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris
pendek. Yang edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God and Other
Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.